Buku catatan dengan pena dan kacamata

Pelanggan Terbaik Bukan Selalu yang Belanja Paling Besar

Kalau diminta menyebut pelanggan terbaik, sebagian besar pemilik usaha akan menyebut nama yang nilai transaksinya paling besar. Jawaban itu masuk akal, tetapi sering keliru.

Pembeli dengan satu pesanan raksasa setahun lalu belum tentu lebih bernilai daripada pelanggan yang belanja sedang-sedang saja setiap bulan tanpa pernah menawar. Yang pertama bisa jadi tidak akan kembali, yang kedua menopang arus kasmu.

Untuk memisahkan keduanya, ada cara lama yang sederhana dan masih sangat berguna: melihat tiga hal sekaligus, yaitu kapan terakhir membeli, seberapa sering, dan seberapa besar. Di banyak buku, metode ini disebut RFM.

Artikel ini membahas cara menjalankannya dari catatan transaksi yang sudah kamu punya, tanpa perangkat lunak khusus dan tanpa rumus yang menakutkan.

Apa Itu RFM dan Kenapa Cocok untuk Usaha Kecil

RFM adalah singkatan dari tiga ukuran: jarak dari pembelian terakhir, frekuensi pembelian, dan nilai belanja. Ketiganya dihitung per pelanggan, lalu digabung menjadi satu gambaran singkat.

Alasan metode ini cocok untuk usaha kecil sederhana: bahannya hanya catatan transaksi. Tidak ada data demografi, tidak ada survei, tidak ada alat berbayar.

Alasan kedua, hasilnya bisa langsung ditindaklanjuti. Setelah selesai, kamu punya daftar nama yang jelas untuk dihubungi, bukan persentase yang sulit dipakai.

Alasan ketiga, ia memaksa kamu melihat tiga hal bersamaan. Satu ukuran sendiri hampir selalu menyesatkan, terutama nilai belanja yang mudah dirusak oleh satu pesanan besar.

Menyiapkan Data: Satu Baris per Pelanggan

Bentuk akhir yang kamu butuhkan sangat sederhana. Satu baris untuk setiap pelanggan, bukan untuk setiap transaksi.

Dari Transaksi ke Ringkasan

Untuk tiap nomor pelanggan, hitung tiga hal dari periode yang kamu pilih, misalnya dua belas bulan terakhir: tanggal pembelian terakhir, jumlah transaksi, dan total nilai belanja.

Pilih periode yang masuk akal untuk jenis usahamu. Toko kelontong bisa memakai enam bulan, sedangkan penjual perabot atau jasa renovasi sebaiknya memakai dua tahun agar jumlah transaksinya tidak terlalu kecil.

Hal yang Perlu Dibersihkan Dulu

Gabungkan dulu nomor yang sama tetapi tertulis berbeda, misalnya ada yang diawali angka nol dan ada yang diawali kode negara. Kalau tidak, satu pelanggan akan terbaca sebagai dua orang dengan frekuensi rendah.

Keluarkan juga transaksi yang bukan penjualan biasa: pengembalian barang, pesanan contoh, dan pembelian oleh keluarga sendiri. Baris semacam ini kecil jumlahnya tetapi bisa mengacaukan urutan di puncak daftar.

Meja kerja dengan catatan strategi pemasaran
Meja kerja dengan catatan strategi pemasaran. Foto: Unsplash

Memberi Nilai Satu sampai Tiga

Agar mudah dibaca, ubah ketiga angka tadi menjadi nilai sederhana. Tiga tingkat sudah cukup untuk usaha kecil; lima tingkat biasanya hanya menambah kebingungan.

Urutkan daftar pelangganmu berdasarkan jarak pembelian terakhir, dari yang paling baru. Bagi menjadi tiga bagian sama banyak: sepertiga teratas mendapat nilai tiga, sepertiga tengah nilai dua, sepertiga terbawah nilai satu.

Lakukan hal yang sama untuk frekuensi dan nilai belanja. Hasilnya, setiap pelanggan punya tiga angka, misalnya tiga-tiga-dua atau satu-satu-tiga.

Ketiga angka itu tidak perlu dijumlahkan. Justru kombinasinya yang bercerita, karena pola tiga-satu-tiga dan satu-tiga-tiga menuntut tindakan yang sangat berbeda.

Kenapa Membagi Berdasarkan Urutan, Bukan Angka Bulat

Banyak orang tergoda menetapkan batas langsung, misalnya belanja di atas jumlah tertentu dianggap tinggi. Cara ini terasa lebih gampang tetapi punya satu kelemahan besar.

Batas angka bulat cepat kedaluwarsa. Harga berubah, produk bertambah, dan setahun kemudian hampir semua pelanggan masuk kelompok tinggi sehingga pembagiannya tidak lagi berguna.

Membagi berdasarkan urutan membuat pembagiannya selalu menyesuaikan diri. Yang kamu ukur adalah posisi relatif seorang pelanggan dibandingkan pelanggan lainmu pada periode yang sama.

Kalau jumlah pelangganmu masih sedikit, misalnya di bawah lima puluh, pembagian tiga bagian mungkin terasa kasar. Tidak apa-apa; tujuannya mengurutkan prioritas, bukan menghasilkan angka presisi.

Membaca Kombinasi Nilainya

Bagian ini yang paling sering dilewati, padahal di sinilah manfaatnya muncul. Bacalah nilai pertama sebagai kabar terbaru, nilai kedua sebagai kebiasaan, dan nilai ketiga sebagai ukuran kantong.

Pelanggan dengan nilai tinggi di ketiganya adalah kelompok yang perlu kamu jaga, bukan kamu bujuk. Mereka sudah membeli; yang mereka butuhkan adalah kepastian dan kemudahan.

Pelanggan dengan frekuensi dan nilai tinggi tetapi pembelian terakhir sudah lama adalah tanda bahaya yang paling mahal. Mereka pernah menjadi tulang punggung, dan sekarang sedang pergi.

Pelanggan dengan pembelian terakhir baru tetapi frekuensi rendah adalah kelompok yang paling bisa ditumbuhkan. Mereka baru mencoba dan masih ingat pengalamannya. Cara menghitung nilai jangka panjang seorang pelanggan dibahas di artikel soal customer lifetime value.

Meja kerja dengan buku catatan, kopi, dan laptop
Meja kerja dengan buku catatan, kopi, dan laptop. Foto: Unsplash

Kelompok yang Paling Perlu Ditindaklanjuti Lebih Dulu

Hasil RFM biasanya menghasilkan banyak kombinasi. Supaya tidak lumpuh memilih, kerjakan tiga kelompok ini dulu.

  • Pelanggan bernilai tinggi yang mulai menjauh: hubungi secara pribadi, tanya apa yang berubah, jangan mulai dengan diskon.
  • Pelanggan baru dengan satu transaksi: pastikan pengalaman pertamanya tuntas, lalu tawarkan pelengkap yang wajar.
  • Pelanggan rutin bernilai sedang: inilah kelompok yang paling mungkin naik kelas kalau paket atau ukurannya disesuaikan.

Perhatikan kelompok pertama dengan serius. Menjaga pelanggan yang hampir pergi hampir selalu lebih murah daripada mencari penggantinya, dan tandanya biasanya sudah terlihat lebih awal. Cara mengenali tanda itu dibahas di artikel tentang mendeteksi pelanggan yang hampir pergi.

Contoh Membaca Satu Daftar Kecil

Supaya terasa nyata, bayangkan sebuah toko bahan kue dengan daftar pelanggan yang tidak terlalu panjang. Semua angka di bawah ini ilustrasi, bukan patokan.

Ada pelanggan yang terakhir membeli pekan lalu, belanja hampir setiap bulan, nilainya sedang. Nilainya menjadi tiga untuk kebaruan, tiga untuk frekuensi, dua untuk nilai belanja. Ini kelompok yang paling layak dijaga kenyamanannya.

Ada pelanggan lain yang nilainya besar dan dulu sering memesan, tetapi terakhir membeli lima bulan lalu. Pola satu-tiga-tiga seperti ini yang paling perlu dihubungi lebih dulu, karena kehilangannya terasa paling besar.

Ada juga pelanggan yang baru membeli pertama kali pekan ini dengan nilai kecil. Tiga-satu-satu bukan kabar buruk, melainkan tanda bahwa pengalaman pertamanya perlu dipastikan berjalan baik.

Dari tiga contoh itu saja, tindakan yang perlu diambil sudah jelas berbeda. Itulah alasan ketiga angka dibaca bersamaan, bukan dijumlahkan menjadi satu skor.

Seberapa Sering RFM Perlu Dihitung Ulang

Untuk sebagian besar usaha kecil, sebulan sekali sudah cukup. Lebih sering dari itu biasanya hanya menampilkan perubahan kecil yang belum berarti.

Yang lebih penting daripada frekuensinya adalah mencatat perpindahan. Simpan hasil tiap bulan di lembar terpisah agar kamu bisa melihat siapa yang naik dan siapa yang turun.

Perpindahan ke bawah pada kelompok bernilai tinggi adalah peringatan paling dini yang bisa kamu dapatkan dari data sendiri. Ia muncul jauh sebelum penurunan terlihat di total penjualan.

Supaya rutin, tempelkan pekerjaan ini pada hal lain yang sudah pasti terjadi, misalnya saat menyusun laporan bulanan. Pekerjaan yang berdiri sendiri cenderung terlewat.

Batas yang Perlu Kamu Sadari

RFM berguna, tetapi ia bukan jawaban untuk segalanya. Mengetahui batasnya mencegah kesimpulan yang terlalu jauh.

Pertama, ia hanya melihat masa lalu. Pelanggan yang baru pindah kota atau usahanya sedang tutup akan terlihat sama dengan pelanggan yang kecewa.

Kedua, ia tidak mengukur keuntungan. Pelanggan dengan belanja besar tetapi selalu minta ongkir gratis dan sering mengembalikan barang bisa terlihat bagus di RFM.

Ketiga, ia buta terhadap alasan. Angka memberi tahu siapa yang perlu dihubungi, bukan apa yang harus dikatakan; jawabannya hanya muncul dari percakapan. Pendekatan menyapa kembali kelompok yang sudah lama hilang dibahas di artikel soal reaktivasi pelanggan lama.

Kenapa Bisnismu Harus Pakai Halo AI

Hambatan terbesar menjalankan RFM di usaha kecil bukan rumusnya, melainkan catatan pelanggan yang tercecer di beberapa ponsel. Halo AI menyatukan catatan itu sejak percakapan pertama masuk.

Setiap nomor punya riwayat lengkap: kapan menghubungi, apa yang ditanyakan, dan apa yang akhirnya dibeli. Dari riwayat itu, tiga bahan RFM bisa disusun tanpa merekap manual.

Karena pencatatannya seragam, pelanggan tidak muncul dua kali dengan ejaan nama berbeda. Masalah data ganda yang biasanya memakan waktu paling lama jadi jauh lebih kecil.

Begitu daftar pelanggan yang mulai menjauh tersusun, menyapa mereka juga lebih mudah karena percakapannya berlanjut di kanal yang sama. Mereka tidak perlu membuka tautan atau mengisi apa pun.

Dan ketika salah satu dari mereka membalas dengan keluhan yang perlu ditangani manusia, percakapan bisa dialihkan ke timmu lengkap dengan riwayatnya. Pelanggan tidak perlu mengulang cerita dari awal.

Kesimpulan: Tiga Angka, Satu Daftar Nama

RFM bukan metode canggih. Ia hanya cara tertib melihat tiga hal yang sudah ada di catatanmu: kapan terakhir, seberapa sering, dan seberapa besar.

Susun satu baris per pelanggan, beri nilai satu sampai tiga berdasarkan urutan, lalu baca kombinasinya. Yang kamu dapatkan bukan laporan, melainkan daftar nama yang bisa dihubungi pekan ini.

Kerjakan tiga kelompok lebih dulu: yang bernilai tinggi tetapi mulai menjauh, yang baru sekali membeli, dan yang rutin dengan nilai sedang. Sisanya bisa menunggu bulan depan.

Kalau kamu ingin riwayat pelanggan tersimpan utuh sehingga perhitungan seperti ini bisa dijalankan kapan saja, lengkapi bisnismu dengan Halo AI, lalu mulai dari sepuluh nama teratas.

Posted in

Discover more from Halo AI | AI Sales No.1

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading