Author: Collab Super AI
-
Dulu, keputusan pembelian sering terjadi di toko fisik atau melalui pertemuan langsung. Hari ini, banyak keputusan penting justru terjadi di ruang percakapan digital. Chat telah menjadi medan baru dalam dunia penjualan. Pelanggan tidak lagi hanya melihat iklan lalu membeli. Mereka ingin bertanya, membandingkan, dan memastikan pilihan mereka tepat. Semua itu terjadi dalam percakapan yang sering…
-
Tidak semua pelanggan yang kecewa akan mengeluh. Sebagian besar justru memilih diam. Mereka tidak marah, tidak meninggalkan komentar negatif, dan tidak menuntut penjelasan. Mereka hanya tidak kembali. Inilah bentuk customer experience yang paling berbahaya, yang tidak terlihat. Banyak bisnis masih menganggap pengalaman pelanggan sebatas keramahan dan kecepatan respons. Padahal, pengalaman pelanggan dibentuk dari sesuatu yang…
-
Di era digital, kesibukan sering disalahartikan sebagai pertumbuhan. Feed media sosial aktif, iklan terus berjalan, notifikasi chat tidak pernah berhenti. Dari luar, sebuah bisnis tampak hidup dan bergerak. Namun ketika performa penjualan dievaluasi lebih dalam, hasilnya sering kali tidak sebanding dengan energi yang dikeluarkan. Fenomena ini bukan hal baru. Banyak bisnis merasa sudah melakukan semua…
-
Di awal, bisnis terasa menyenangkan. Semua masih bisa dipantau. Chat kebaca. Customer dikenali. Setiap penjualan terasa jelas asal-usulnya. Lalu bisnis mulai tumbuh. Channel bertambah. Leads datang dari mana-mana. Chat makin ramai. Tim makin sibuk. Di titik ini, banyak owner merasa bangga, tapi diam-diam mulai kehilangan satu hal penting: kontrol. Bukan kontrol dalam arti micromanage, tapi…
-
Salah satu kesalahan terbesar bisnis adalah mengira semua customer yang datang punya niat yang sama. Padahal kenyataannya, sebagian hanya melihat, sebagian membandingkan, dan sebagian kecil sebenarnya sudah siap membeli, tapi tidak pernah ditangkap momennya. Masalahnya, kesiapan customer tidak selalu diucapkan secara langsung. Mereka jarang bilang, “saya siap beli sekarang.” Yang mereka lakukan biasanya lebih halus:…
-
Banyak bisnis merasa sudah cukup cepat. Chat dibalas. Leads ditangani. Tim bekerja. Tapi hasilnya tetap naik-turun, tidak pernah stabil. Masalahnya bukan di kecepatan, tapi di konsistensi. Hari ini customer dibalas cepat. Besok telat. Hari ini follow-up rapi. Besok lupa. Hari ini jawabannya jelas. Besok beda admin, beda jawaban. Dari sisi bisnis, ini terlihat normal. Dari…
-
Banyak bisnis merasa customer-nya “tiba-tiba hilang”. Tidak ada komplain. Tidak ada penolakan. Tidak ada alasan jelas. Mereka datang, tanya sebentar, lalu tidak pernah kembali. Padahal sebenarnya, customer tidak benar-benar hilang. Mereka pergi di momen kecil yang sering tidak disadari. Bisa karena respons terlalu lama, jawaban terasa template, atau follow-up yang tidak pernah datang lagi. Masalahnya,…
-
Banyak bisnis sebenarnya punya produk yang oke. Harga masuk, kualitas aman, bahkan traffic juga ada. Tapi tetap saja, penjualan tidak naik signifikan. Bukan karena market tidak tertarik, tapi karena bisnis terlalu lambat merespons momen ketika customer sedang siap. Customer hari ini tidak menunggu. Saat tertarik, mereka langsung bertanya. Kalau tidak dibalas cepat atau jawabannya tidak…
-
Banyak bisnis hari ini berada di situasi yang membingungkan. Iklan jalan. Konten rutin. Traffic ke website dan chat masuk terus. Tapi saat dicek di laporan akhir bulan, penjualan tidak bergerak signifikan. Refleks pertama biasanya menyalahkan marketing: iklannya kurang kuat, kontennya kurang menarik, atau demand pasar sedang turun. Padahal, di banyak kasus, masalahnya justru muncul setelah…
-

Banyak bisnis rajin bikin konten, tapi hasilnya tidak pernah sebanding dengan effort yang dikeluarkan. Feed aktif, iklan jalan, leads masuk, namun penjualan tetap stagnan. Masalahnya sering bukan pada kualitas konten, melainkan strategi funnel yang keliru. Tidak semua audience berada di tahap yang sama. Dan ketika konten yang disajikan tidak sesuai dengan fase customer, peluang bisnis…
